Setelah pulang dari Pulau Tidung, sepertinya saya “ketagihan” dengan yang namanya jalan-jalan ala “Backpacker”. So…saya searching tempat-tempat wisata yang bagus, maka muncullah ide untuk mensearch keyword “SAWARNA”.. dan ternyata yang saya temukan adalah sebuah desa yang indah terletak di propinsi Banten. Banyak tempat wisata yang masih alami disana, belum terjamah dan eksotis.
Tidak butuh waktu yang lama bagi saya dan pepi untuk menyusun anggaran biaya dan itinerary. Dengan kegigihan kami be-2 mencari informasi tentang sawarna dalam waktu 3 hari “buku kecil” perjalanan goes to Sawarna pun berhasil di rilis. kami be2 diskusikan dengan team “Wonderful People” di Sushi Tei. Banyak yang tertarik, tapi pas hari H banyak yang tidak bisa ikut. Hanya 4 orang diantara team “Wonderful People” yang bisa ikut ke Sawarna yaitu saya, pepi, edwin dan Ir. Tadinya saya dan pepi sempat ragu karena banyak yang mundur, tapi dengan keyakinan dan niat yang sangat kuat menuju Sawarna, akhirnya terjaring 3 orang baru yaitu Bayu, Asung dan di menit2 terakhir Bayu berhasil mengajak Wulan untuk bergabung. Wah…senangnya…
….dan inilah cerita perjalanan the 7 Wonders…
Hari pertama, Jum’at 30 Juli 2010
Pukul 18.45 WIB saya janjian dengan Ir di Shelter Busway Pondok Indah. Setelah membeli tiket busway seharga 3.500 rupiah, saya dan Ir menunggu busway..cukup lama malam itu saya menunggu busway. Jam 19.10 saya baru bisa menaiki busway menuju Shelter Kebayoran Lama. Di Shelter Kebayoran Lama Bayu sudah menanti kami. Jalanan agak macet malam itu. Ya mungkin karena weekend. Perjalanan kami lanjutkan menuju Shelter Grogol, karena kami janjian dengan Edwin di sana. Belum sampai 5 menit kami menunggu, busway yang ditumpangi Edwin pun datang dan perjalanan menuju Shelter Kali Deres pun kami lanjutkan. Setelah sampai di Terminal Kali Deres kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan “Angkot” jurusan Kali Deres – Sukabumi seharga 4.000 rupiah. Kami turun di RS. Sari Asih Sangiang dan melanjutkan perjalanan kami lagi dengan angkot menuju Cluster Alamanda seharga 2.000 rupiah. Dan setibanya di rumah Pepi…kami dihidangkan mie goreng sebagai makan malam. Transfer foto liburan Pulau Tidung, foto2 di kamar atas rumah pepi dan bercerita2..Pukul 23.30 Wulan tiba di rumah Pepi.. dan kami menghabiskan malam itu dengan bermain UNO sampai jam 00.00. Setelah bersih-bersih diri, perkenalan dengan Wulan (saya dan Pepi baru malam itu berkenalan dengan Wulan) kami be-3 pun tertidur.
Hari kedua, Sabtu 31 Juli 2010
Jam 5.00 kami sudah siap. Asung pun tiba di rumah pepi tepat pukul 5.10, tetapi mobil yang kami sewa belum datang. Jadi kami sarapan. Setelah mobil datang, Jam 6 kurang kami siap-siap berangkat. Setelah berpamitan dengan Mami Lina dan Papi Muslih (orang tua pepi) kami pun berangkat menuju Sawarna. Perjalanan menuju Sawarna pagi itu kami lewati dengan melanjutkan tidur di mobil. Sempat beberapa kali, Pa Supir bingung jalan mana yang harus di tempuh, tidur saya pun jadi tidak tenang. Perjalanan Tangerang – Rangkas – Malimping menghabiskan waktu hampir 3,5 jam dengan jalan berkelok dan agak jelek. Setelah sampai Malimping kami harus meneruskan perjalanan menuju Bayah. Di pertigaan terminal Bayah kami di jemput oleh orang dari “Homestay Widi” untuk menunjukkan jalan ke Sawarna. Jam 11 kurang 15 kami pun tiba di desa Sawarna.
Untuk memasuki desa Sawarna, akses jalan yang harus kami lalui adalah Jembatan Gantung. Diujung jembatan gantung desa Sawarna ada pos siskamling yang meminta retribusi perbaikan jembatan sebesar 2.000 rupiah/orang. Setelah itu kami menuju Homestay Widi. Tapi karena Homestay Widi penuh jadi kami dialihkan ke rumah saudaranya Pa Widi. Tidak jauh dari Homestay Widi. Ada 2 kamar yang bisa kami gunakan untuk kami menginap. Kamar depan untuk 4 lelaki (ir, asung, bayu dan edwin), sedangkan kamar yang tengah untuk 3 wanita (saya, pepi dan wulan). Baru datang saja kami sudah disuguhkan cemilan keripik pisang dan manisan pepaya. Rasanya enak, karena kami sedang kelaparan. Makan siang masih 1 jam lagi, karena nasi belum matang. Jadi kami foto-foto dulu di ruang tamu.
Jam 12 kurang makanan matang. kami menyantap makan siang, setelah itu kami sholat zuhur. Setelah sholat zuhur perjalanan caving ke Goa Lalay pun dimulai. Pertama kami harus melewati jembatan gantung yang pertama kali kami lewati, lalu melewati jalan raya dan sempat saya dan pepi mengabadikan gambar kami di depan kantor kepala desa sawarna.
Setelah itu masuk kembali ke dalam perkampungan dan perjalanan kami disuguhkan dengan pemandangan sawah yang indah. Hijau bener euy. Lalu kami harus melewati jembatan gantung lagi. Ada kejadian lucu waktu mau menaiki jembatan gantung, saya dan pepi kejedot tali jembatan. Sakit banget euy dan sempat meninggalkan tanda kemerahan di jidat. Melewati jembatan gantung kembali merasakan pusing.
Setelah itu kami melewati kuburan. Agak takut juga waktu melewati kuburan. Tapi saya yakin, mereka tidak akan mengganggu kami. Kami hanya menumpang lewat. hehehe… Setelah itu tibalah kami di mulut goa. Mulut goanya agak kecil tapi gpplah.. Dan caving pun dimulai. Dengan berbekal 4 senter sebagai cahaya penerangan kami. Perjalanan pun dimulai. Amazing melihat stalaktit di dalam goa. Stalaktit yang paling atas di penuhi oleh kelelawar. Jalanan di dalam goa berlumpur dengan kedalaman air setinggi betis hingga dengkul. Setelah puas caving di dalam goa, kami pun kembali menuju jalan keluar. Keluar dari goa pakaian kami sudah kotor dengan lumpur. Setelah bersih-bersih kami pun keluar dari goa.
- 6 jagoan @Goa Lalay
Keluar dari goa, kami dimintai biaya retribusi masuk goa sebesar 2.ooo rupiah/orang, dan kami memberikan 10ribu rupiah untuk 1 orang guide yang menenami kami masuk ke dalam goa, dan setelah itu kami melanjutkan perjalanan kembali ke homestay. Melewati jembatan gantung dan sungai. Bayu dan Asung mengajak kami untuk bermain di Sungai. Turun dari jembatan gantung saya cukup antusias untuk bermain di sungai, tetapi ketika sudah di dalam sungai, sendal sebelah kanan saya hanyut. Huuuuuuuhhh…langsung berubah jadi BT dech. Ir sempat ingin meminjamkan sendalnya untuk saya, tapi saya menolak. Saya sedih…sendal kesayangan saya hanyut. Tidak berapa lama saya naik ke daratan, ternyata Pepi menemukan sendal saya. Huaaa…senang sekali. Ir mengambilkan sendal saya. Huaa…gak jadi BT dech. hehehehehe…
Perjalanan cukup melelahkan karena kami tidak membawa air minum. Mampir ke warung untuk membeli 1 kaleng pocari sweat.
Setelah itu kembali ke penginapan. Lagi dan lagi kami harus melewati jembatan gantung. kembali berpusing-pusing kembali. Setelah sampai penginapan seger banget minum kelapa muda. Sampai-sampai saya gak rela untuk melepaskan kelapanya itu.. After melepas lelah di homestay..kami menuju pantai Ciantir. Letaknya tidak jauh dari homestay. Hanya jalan kaki 5-1o menit kita sudah berada di Pantai Ciantir. Wow…pantai yang indah dengan pasir putih dan ombak yang tinggi cocok banget kalau untuk surfing. Tapi sayangnya kami semua gak ada yang bisa surfing…jadi ya main-main air aja dech sambil menunggu sunset.
saya, Pepi dan Lan meninggalkan pantai kembali ke homestay untuk bersih-bersih, sholat maghrib, istirahat dan makan malam. Sedangkan 4 lelaki itu…sepertinya kembali ke homestay after maghrib.
Malam hari setelah makan malam kami main UNO bersama di ruang tamu. Jam 9 malam, kami berencana untuk membeli bakso dan keliling kampung. Kali ini Bayu tidak ikut serta, dia memilih untuk tidur di homestay. Tetapi belum setengah perjalanan kami sudah balik arah. habis jalanan gelap banget karena tidak ada penerangan di jalan raya. Kami kembali menuju perkampungan sawarna…membeli 3 POP MIE, 2 kaleng SPRITE dan 1 kaleng POCARI SWEAT, 1 kartu REMI untuk kami nikmati di pinggir pantai.
Main Remi sambil menikmati POP MIE di suasana gelapnya malam di iringi suara deburan ombak seru-seru gimana gitu, lalu dilanjutkan dengan sesi curcol tentang kehidupan cinta masing-masing. Jarang-jarang moment kayak gini ada di jakarta. Tepat jam 11 kami kembali ke penginapan dan langsung tidur. hehehehe
berhubung ceritanya masih panjang…lanjut ke Sawarna – Part 2 ya…


















